Social Icons

Pages

Jumat, 17 Agustus 2012

Titik Putih, Harapan Terakhirku (bagian 2)

            XII IPS 3, itu lh label yang tertera di atas pintu kelas ku. Tak kuasa aku menahan gejolak histerisku, aku pun memasuki kelas dengan sikap bijak ku. Aku menempati kursi yang tak jauh dari meja guru, di dekat jendela, tempat yang menurut ku strategis, strategis dari pintu keluar dan strategis dari tong sampah, namun sayangnya tak strategis dari rumah pak wali kota. Tak terasa ngawur ku pun berakhir, jam pertama pun dimulai....
            Guru yang mengajar di kelas ku luar biasa. Cantik, putih, nggak jauh-jauh amat kayak mpok nori, ups maksudnya asmirandah, pokoknya betah banget kayaknya kalau belajar sama bu Sandra ini, begitu lah nama yang ku tau dari pengakuannya. Suaranya yang sayu-sayu manja terdengar ketika ia mulai berbicara.

            “I lihat di kelas I ada student baru, what is your name?”
            Waw, suaranya, aahhhhhh... Aku terus melamun..
            “Hello, siapa namamu?”
            Manja banget suaranya, Lamunan hatiku terus berdendang.
            “HHHHEEELLLOOO, WHAT IS YOUR NAME?!!!!”
            “Eeeehhhh, Randy Saputra miss” lamunan ku akhirnya pecah.
“Jangan melamun di jam pelajaran I, kalau ingin melamun you boleh keluar dari jam pelajaran I”
“Maaf mss..”
Hhhuuhhhh, aku jadi dimarahin, saatnya fokus.

Jam istirahat pun datang. Aku pun memanfaatkan waktu istirahatku untuk berkeliling sekolah baruku. Aku terus berjalan sampai akhirnya aku berhenti disebuah lahan besar yang penuh semak belukar. Lahan yang tak asing lagi bagiku. Lapangan bola? Aku nggak percaya lahan ini ternyata lapangan bola, lapangan bola yang sudah dipenuhi semak. Kayaknya sudah nggak terurus lagi. Sayang kalau sekolah ini tidak memanfaatkan lapangan ini pikirku. Aku pun berlalu dari tempat itu.
Di kelas aku sempat bercerita dengan teman sebangku ku.

“Ndre, aku tadi ngelihat ada lapangan bola di belakang sekolah, apa di sekolah ini ada ekskul sepak bola?”
“Dulu sih ada, sekarang nggak ran”
“Kenapa”
“Masak kamu nggak tau, sekolah ini adalah sekolah dengan tim sepak bola terburuk dan terpayah di antara tim sepak bola sekolah-sekolah di Indonesia”
“Haaaahhh???”
“Makanya sekolah nggak mau ngeaktifin lagi ekskul ini karna nggak ada kontribusinya buat sekolah”

Mendengar penjelasan dari Andre, terbesit keinginanku untuk mengaktifkan kembali ekskul bola ini. Tapi kenapa sepenuhnya jiwaku terpanggil untuk ekskul bola ini? Bukannya aku nggak pandai bermain bola? Aku memang suka banget sama sepak bola, mungkin ini yang mendorong ku untuk ngeaktifin ekskul bola ini.

“Ndre, kita harus hidupin lagi ekskul bola ini”
“Haahh? Kamu yakin?”
“Kenapa nggak? Kita harus coba dulu”
“Tapi aku nggak yakin, tim sepak bola sekolah ini sudah terkenal banget sebagai tim sepak bola terpayah”
“Kita harus bisa ngerubah istilah ‘terpayah’ itu jadi ‘terbaik’ ”

            Bel pulang pun berbunyi, aku pun langsung siap-siap untuk pulang. Dasar cuaca tidak bersahabat, hujan pun turun dengan derasnya. Aku berlari menuju gerbang sekolah, dan berteduh di sana. Di dekatku juga berdiri seorang cewek yang kayaknya juga baru keluar dari kelasnya. Dia tersenyum kepadaku. Melihat senyumannya, aku merasa kalu dia mirip seseorang. Mirip siapa ya? Lamunanku terus mengiringi pikiranku di tengah derasnya hujan. Tak berapa lama ia pun berlari ke arah taksi yang kebetulan berhenti di depan gerbang. Aku pun bergegas pulang selagi hujan sudah mulai reda.

* * * * *

            Malam harinya dikamarku, aku terus memikirkan cewek yang aku lihat di gerbang tadi. Aku masih penasaran dengan wajahnya. Mirip siapa ya? Tak sadar aku pun mengutak-ngatik lemariku. Ku temukan dua foto ibuku yang tersimpan rapi di album fotoku. Ini dia, cewek yang aku temui tadi ternyata mirip ibu ku. Wajah manisnya persis seperti ibuku. Dari ujng rambutnya hingga ujung kuku jari kakinya, persis seperti ibuku. Aku kembali hanyut dalam renungan hati, pikiran, jiwa, perasaan, nadi, jantung, ginjal, dan pangkreas ku. Hingga aku terjatuh dari tempat tidurku dan tak sadarkan diri....

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar