‘Bola masih dikuasai oleh tim tamu dari indonesia. Umpan silang tadi pemirsa, melebar ke sisi kanan sekarang, umpan crossing, disana ada Randy Saputra yang menanti bola, dan kita lihat sebuah tendangan keras diluncurkan, dan.....’
“Bangun... bangun!!! Randy, bangun, udah siang!”
Aku perlahan mulai membuka mata setelah mendengar suara yang tak asing lagi bagiku. Suara yang lembut namun terdengar perkasa. Suara yang sering membangunkanku disaat aku bangun kesiangan. Yah, dialah nenekku.
“Iya nek...”
Mataku yang masih ingin menutup pun takkan berkutik lagi jika sudah dibangunkan oleh nenek ku. Walau badan ku masih lemas, aku pun berjuang dengan mati-matian, berusah semampuku, berkorban demi nenek ku, dan demi tercapainya cita-citaku, berusaha menuju kamar mandi untuk menunaikan mandi pagiku. Usai mandi aku segera menghampiri nenel ku yang sedang asik menonton TV.
“Nek, Randy mau pamit keluar sebentar”
“Kemana?”
“Pergi liat-liat suasana kota ini aja nek, sejak pindah dua hari yang lalu kan Randy belum sempat liat-liat kota ini”
“Ohh, jangan terlalu sore ya pulangnya”
“Siap nek..”
Aku pun bergegas keluar rumah. Sebelum pergi aku sempat menoleh ke arah nenek ku. Tiba-tiba terbesit kesedihan di hatiku, kesedihan yang sempat menggoes hatiku, yang smpat menghujam, merobek, menusuk, mencabik, mensilet, menggergaji hatiku. Yah, sejak aku ditinggal mati oleh kedua orang tua ku, aku yang hanya hidup berdua dengan nenek ku merasakan bagaimana susahnya hidup. Dari masalah ekonomi hingga masalah lainnya. Sebelum tinggal di indonesia, aku dan nenekku sempat tinggal di singapura bersama kakek ku. Setelah kakek juga meninggal dunia, kami berdua diajak oleh pamanku tinggal di indonesia. Karena tidak mau merepotkan paman, nenek memilih untuk menyewa sebuah rumah kecil saja untuk aku dan nenekku tinggal. Huuuuhh, menyedihkan sekali hidupku.
* * * * *
Tak terasa jam ditanganku telah menunjukkan pukul 2 sore. Sudah 2 jam aku berjalan menelusuri kota yang baru ku tempati ini. Perjalananku pun akhirnya terhenti di sebuah lapangan hijau yang tak terlalu besar. Disana banyak pemuda-pemuda yang sepertinya seumuranku sedang bermain sepak bola. Aku langsung menuju sebuah bangku yang berada ditepi lapangan untuk melihat permainan sepak bola mereka. Tak sampai 30 menit aku melhat mereka, tiba-tiba sebuah tendangan keras melesatkan bola ke arah kepalaku. Untung aku cepat menghindar.
“Hei, pandai nendang bola nggak?” bentakku.
“Maaf..maaf. Kami nggak sengaja”
“Haaaahh, untung kecepatan kepalaku masih unggul dari kecepatan tendangan kalian”
“Sekali lagi kami mita maaf, tadi benar-benar nggak sengaja”
“ Ya udah, berhubung kalian udah minta maaf, dengan menimbang kejadian ini, melihat bukti-bukti yang ada, dan mendengar kesaksian kalian, maka aku putuskan untuk memaafkan kalian”
“Haaahhh, mau maafin aja kata-katanya kayak lagi ngadilin maling besar aja. Yok teman-teman kita main bola lagi”
Aku pun berniat untuk pergi meninggalkan lapangan itu. Namun langkahku terhenti setelah aku mendengar teriakkan yang sepertinya memanggilku.
“Hei, tunggu sebentar”
Aku hanya menoleh ke arah suara tersebut.
“Siapa namamu?”
“Aku Randy”
“Aku Kevin. Aku tidak pernah melihat kamu sebelumnya, apa kamu baru disini?”
“Iya, aku baru pindah 2 hari yang lalu”
“Kalau gitu salam kenal ya. Ikut main bola yuk?”
“Mmmmmmhh... Bukan apa-apa, bukannya aku mau menyombongkan diri, bukannya aku meninggikan kemampuanku, dan bukannya aku mau memuji diriku, tapi terlebih dan terkurang aku belum di izinkan untuk pandai main sepak bola”
“Hahahahahaha”
“Kenapa ketawa?”
“Nggak sengaja. Mau ikutan main?”
“Gimana ya... Boleh deh.”
Aku pun mulai bermain sepak bola bersama mereka. Saking asiknya bermain, tak terasa jam pun telah menunjukkan pukul setengah 5 sore. Setelah berpamitan kepada mereka, aku pun langsung bergegas pulang. Hari yang melelahkan untuk menanti hari esok.
* * * * *
Ini adalah hari pertama ku sekolah setelah aku pindah ke kota ini. Sekolah baru dan tentunya teman-teman baru. Setelah pamit kepada nenek, aku pun naik angkutan umum yang kebetulan lewat di depan kontrakan kami.
Setelah sampai ditujuan, aku merasakan hawa baru ketika masuk ke sekolah baruku. Mungkin ini adalah awal baru untuk kehidupanku. Udara yang sejuk membenamkan kesadaranku untuk memikirkan suatu hal. Lapangan bola. Lapangan bola? Kenapa malah lapangan bola yang aku pikirkan? Kenapa bukan pelajaran yang akan aku hadapi hari itu yang akan terpikirkan? Kenapa? Ntah lah, aku tidak tau, yang aku tau adalah saatnya menuju kelas, kelas tiga ku di SMA baruku…..
* * * * *
bersambung......

aishhh, mantabh roni.. lanjutkan!
BalasHapusbundo jadi pingin bisa nulis fiksi juga nih. :)
hahaha, makasi ya bun...
Hapuscoba lah bun nulisnya... :)
next page...
BalasHapussib. baca yg part 2 lahi
hahaha, mudh2n ang suko si...
Hapus