Social Icons

Pages

Selasa, 21 Agustus 2012

Titik Putih, Harapan Terakhirku (bagian 3)


            “Kamu sudah sadar ya..”
            “Nenek, apa yang terjadi nek?”
            “Tadi kamu jatuh dari tempat tidur dan nggak sadarkan diri”
“Tadi kepala Randy pusing, tiba-tiba aja semuanya jadi buram”
“Ya udah, kamu istirahat saja dulu, nenek mau ke kamar dulu”
“Iya nek...”

            Jam pun berbunyi, pertanda waktu sudah menunjukkan hari yang baru. Yah, sekarang pukul 00.01. Ntah kenapa aku nggak langsung kembali tidur. Aku malah berpikir tentang impianku, membela Tim Nasional sepak bola Indonesia. Tim Nasional sepak bola? Aku sama sekali nggak pandai sepak bola. Tapi kenapa, kenapa sepak bola sangat dekat dengan jiwau, kenapa selalu terpikirkan olehku? Apa aku sedang bermimpi? Uuuuhhh, aku harus segera kembali tidur...

* * * * *

            “Ndre, kita harus ke ruangan kepala sekolah sekarang”
            “Untuk apa Ran?”
“Kita haru ngeyakinin kepala sekolah untuk kembali ngaktifin ekskul bola di sekolah kita”
“Aku nggak yakin kepala sekolah bakalan mau”
“Kita harus nyoba dulu, baru bisa tau hasilnya”
“Tapi...”
“Ok, kita langsung ke ruangan kepala sekolah”

            Setibanya di ruangan kepala sekolah, kami pun mengutarakan maksud kedatangan kami. Panjang lebar kami menjelaskan semuanya. Kepala sekolah hanya duduk manis medengarkan kami. Hampir tidak ada respon positif dari wajahnya. Memang sih wajahnya penuh dengan ke negatifan, penuh dengan “min”. Tapi aku membutuhkannya untuk ekskul ini.

“Bapak mau kembali mengaktifkan ekskul ini, asal kalian bisa menang dalam pertandingan pertama kalian”
“Pertandingan pertama?”
“Iya, nanti bapak akan carikan pelatih, tugas kalian sekarang adalah mencari aggota, jika anggota sudah cukup baru kali boleh latihan. Tapi ingat, jika kalian kalah maka ekskul bola tidak akan pernah diaktifkan lagi”

            Dasar kejam, tapi aku terpaksa menerimanya. Aku dan andre pun kembali ke kelas. Misi pertama ku pun dimulai, aku harus mengumpulkan anggota setidaknya 11 orang.

            “Sekarang baru dua, kita harus cari sembilan orang lagi Ndre”
“Aku tau, kita ajak mantan-mantan anggota ekskul bola yang dulu, mereka pasti mau. Soalnya mereka juga ingin ekskul bola aktif lagi”
“Berarti semuanya sudah pas, asiiikkk”
“Belum asik Ran, mereka cuma berlima, ditambah kita baru bertujuh, kita harus cari empat orang lagi”
“Waduuhh..”

            Misi hari ini cukup sampai disitu. Jam pulang pun sebenarnya sudah dari tadi berbunyi. Aku melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah. Melewati lorong yang cukup panjang, melewati jenjang yang curam, dan melewati ruangan si wajah negatif (kepala sekolah).
            Saat kaki ku melewati ruangan kesenian, aku mendengar lantunan irama piano bernyanyi menghiasi sekitar ruangan itu. Sungguh indah irama yang di mainkan. Siapa kah yang memainkannya? Apakah nenekku? Mana mungkin, kenapa nenek yang aku pikirkan? Aku pun melihat dari luar jendela. Itu dia, cewek yang aku lihat kemarin di gerbang sekolah. Dia terlihat cantik saat memainkan piano itu. Sangat mirip dengan ibuku, tapi nggak mungkin kan dia ibuku.
            Dia pun berdiri dari kursi pianonya. Aku tetap memperhatikan apa yang akan dia lakukan. Dia mengambil buku yang ada di dekatnya, dan... melemparkannya padaku. Apa? Hampir saja mengenaiku, untung aku ada diluar jendela. Kenapa dia melemparkan buku kepadaku?

            “Hei, kamu ngintip ya?!!!!!”

            Aku terkejut mendengar teriakannya. Ternyata selain wajahnya yang cantik, suaranya pun cantik bagaikan petir yang menyambar telingaku. Aku pun masuk ke ruangan itu dan bermaksud untuk menjelaskannya.

“Aku nggak ngintip kok, aku cuma nggak sengaja lewat terus terdengar suara piano dari ruangan ini, makanya aku lihat”
“Kamu pasti ngintip nih!”
“Untuk apa juga aku ngintip di ruangan kesenian. Atau kamu yang ingin di intip?”
“Enak aja”
“Ya udah deh aku minta maaf. O iya aku Randy. Kamu hebat banget main pianonya. Tapi belum sehebat aku sih”
“Emangnya sehebat apa sih kamu main piano?”
“Nggak pandai sih sebenarnya. O iya nama kamu....”
“Aku pergi dulu ya, udah sore banget soalnya”
“Tapi nama kamu.....”
“Sampai jumpa Randy.”

            Dia pun berlalu. Tak sempat aku menanyakan siapa namanya. Dia cantik, unik, asik, antik, mekanik, dan elektrik. Emangnya peralatan listrik? Aku juga harus cepat-cepat tiba di rumah. Hujan juga sudah mulai turun. Aku pun berlari menuju gerbang sekolah....

2 komentar:

  1. like this ron, lanjutkan caritonyo, ambo tunggu apdet nyo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, sip du, sna x cma tinga copy k blog c, kiro x flash ilang lo, tpakso puta utak liak

      Hapus